Selasa, 10 Juli 2012

TAU SAMAWA (Orang Sumbawa)




Asal-usul
Tau samawa (orang Samawa) adalah penduduk asli Tana Samawa yang wilayahnya meliputi kabupaten Sumbawa sekarang. Dari Empang di Timur sampai Sekongkang di Barat. Tersebar dari pesisir utara membentuk desa-desa pantai sampai ke puncak pegunungan Batu Lanteh membentuk desa-desa pedalaman dan terus ke pantai di Lunyuk.
Asal usul tau samawa pada awalnya adalah bangsa-bangsa Negroid, kemudian Veddoid dan bangsa Potro Malay. Mereka berasal dari berbagai tempat. Mereka datang ke Tana Samawa dan tinggal bersama kaum pribumi. Pada abad ke-15 dan 16 Tana Samawa dikenal dengan “ pulau Nasi “. Hal ini mendorong para pendatang dari berbagai suku bangsa ke daerah ini, seperti : orang Bali, Bugis, Makasar, Banjar, Jawa, dan Melayu, serta Lombok. Para pendatang ini membawa pengaruh terhadap bahasa dan budaya. Hal ini daapt dibuktikan dari bahasa, budaya, bentuk tubuh dan warna kulitnya. Bahwa Tau Samawa yang saat ini mendiami Kabupaten merupakan percampuran dari banyak suku bangsa selama berabad-abad. 

Karekter
Tau Samawa sebagian besar merupakan keturunan dari Bugis Makasar, dengan penduduk asli dan pendatang dari suku bangsa lainnya. Tau Samawa merupakan masyarakat yang heterogen sejak permulaan terbentuknya penduduk Samawa. Tau Samawa dikenal dengan masyarakat yang terbuka (welcome) terhadap apa saja dengan budaya apa saja. Namun dengan demikian jangan ganggu adat dan rapangnya. Perjanjian yang ditandatangani Raja Goa dengan Raja Sumbawa Dewa Maja Paruwa ketika Tana Samawa ditaklukan pada 1623, disebutkan bahwa pihak Goa tidak akan mengganggu adat rapang tau samawa, yang diminta pihak Goa adalah menegakkan syariat Islam di seluruh Tana Samawa. Ini menunjukkan bahwa Tau Samawa terbuka bagi inovasi baru , sistem sosial yang baru yang dapat memberikan perbaikan, persamaan sosial dan kestabilan. Tapi adat dan budaya mereka jangan diusik, sebab akan menyinggung harga diri mereka- (ila) yang ada pada mereka. Dalam kehidupan Tau Samawa, ila (bisa dibaca Harga diri) yang merupakan unsur yang prinsipil dalam diri mereka. Ila itu artinya malu. Banyak Idiom Tau Samawa yang berkaitan dengan ila, seperti Nonda Ila (tidak punya malu), Pina Ila (jadikan sebagai malu). Tau Samawa selalu berusaha menegakkan apa yang disebut ila. Mereka tidak mau disebut nonda ila. Dan ila bisa menjadi pendorong untuk melenyapkan (membunuh), mengasingkan, mengusir, dan sebagainya terhadap siapa saja yang menyinggung perasaan mereka. Pribadi terpahat dalam suatu lawas yang berbunyi :
Tutu’si lenas mu gita
Mara ai dalam dulang
Rosa dadi umak rea
(benar bahwa mereka kelihatan tenang dan diam,
bagaikan air dalam tempayan,
namun sewaktu-waktu bisa beriak dan menerjang
bagaikan ombak mendebr pantai).
Karakter menonjol lainnya dari Tau Samawa adalah rasa hormatnya yang tinggi pada tamu. Tau Samawa sebagai masyarakat yang terbuka dan penuh kompromi, menempatkan tamunya pada tempat yang semestinya. “Tamu adalah raja”. Demikian ungkapan yang sering kita dengar. Namun, jangan sekali-kali menghianatinya atau menyakiti hatinya.mereka bisa tersinggung dan bisa dendam. Lebih-lebih jika menyangkut kehormatan keluarga. Bila hal ini terjadi mereka tidak mau dicap caala (banci), sowai (perempuan), atau nonda ila’na (tidak ada malunya). Semua cap ini adalah suatu kenyataan sosial yang berlaku umum dalam kehidupan dunia empiris Tau Samawa. Karena itu seorang pemuda atau pria dari keluarga akan berusaha membuktikan bahwa dia adalah “selaki”, yang berarti dia adalah lelaki yang bernar-benar perkasa dan rela menerima resiko apa saja demi sebuah harga diri.
Walaupun demikian karakter Tau Samawa sesungguhnya “sangat penyayang” terhadap sesama sebagai ungkapan terhadap sikap harmoni. Dalam diri tau Samawa selalu timbul “Pamendi” yang berarti sayang, cinta, dan kasihan pada orang yang sedang menderita atau kesukaran. Hal lainnya dari pribadi Tau Samaw adalah pribadi yang bberserah diri ada ketentuan Tuhan. Artinya setiap usaha yang telah diupayakan secara maksimal bila tidak tercapai, maka ia sabar. Nonda jangi (tidak ada nasib ) ataupun pendi jangi (meratapi nasib) adalah ungkapan yang biasa kita dengar dalam kehidupan nyata Tau Samawa.
Karekter tau Samawa yang sesungguhnya adalah berpegang pada tiga hal, yaitu : Ila, Pamendi,  dan jangi. Yaitu harga diri (malu), kasih sayang terhadap sesama, dan percaya diri pada nasib atau sabar.

Bahasa
Tau samawa selama berabad-abad menjaga identitas budaya mereka meskipunpengaruh Majapahit (Jawa) mempengaruhinya selama ratusan tahun yang kemudian disusul pengaruh Makasar (Goa-Tallo) dan Bugis yang juga ratusan tahun, termmasuk pengaruh yang datang kemudian dari berbagai suku bangsa (sasak, Bali Banjar, Melayu, Minang dan lain-lainnya), Tau samawa bangga dengan budaya yang dimilikinya.
Tau Samawa berbicara dengan bahasa daerahnya (basa Samawa) yang merupakan identitas daerahnya. Walaupun banyak dialek yang berbeda seperti yang ada di pegunungan Ropang, Batu Lanteh, Jereweh, Penduduk di sebelah SeLatan Lunyuk, atau pun di Taliwang dan berbagai tempat lainnya, yang berbeda dengan yang digunakan di Samawa bagian Timur atau Tengah, namun tidak mengalami kesulitan untuk salaing memahami. Semuanya merupakan kekayaan bahasa yang ada di Tana Samawa.
Memang ada banyak kata-kata Basa Samawa yang mirip dengan bahasa Sasak, Bali, Jawa, atau Bahasa Bugis-Makasar yang memang lama bersentuhan secara sosial budaya. Namun semua itu telah mengalami penyesuaian dengan lidah Tau Samawa sehingga menjadi bagian dari Basa Samawa, bahasa yang menjadi kebanggaan daerah Tau Samawa.

17 komentar:

denasalutgmail.com mengatakan...

LIHAT BLOG Q SDN PANUA

Anonim mengatakan...

sedikit sebanyak ingin tahu adat di sumawa
kerna calon istri sy dri sumawa & saya bangsa melayu di malaysia

syahida adila jaafar mengatakan...

thank you for the info. really appreciate it. saya malaysia... tapi bapak saya sumbawa dan saya bangga ada darah sumbawa. :)

Johari Stan mengatakan...

Saya generasi ke-7, asalnya keturunan saya dari Pulau Sumbawa berhijrah ke Kedah, seterusnya ke Perak dan Selangor.Saya kagum dengan keturunan ini, terkini kami sudah berketurunan ke generasi yg ke-9...Alhamdulillah

Johari Stan mengatakan...

Saya generasi ke-7, asalnya keturunan saya dari Pulau Sumbawa berhijrah ke Kedah, seterusnya ke Perak dan Selangor.Saya kagum dengan keturunan ini, terkini kami sudah berketurunan ke generasi yg ke-9...Alhamdulillah

Unknown mengatakan...

Masyaallah-- nice--

Unknown mengatakan...

Saya bangga jadi orang Sumbawa.

Unknown mengatakan...

Samawa sabalong samalewa

Unknown mengatakan...

Aku butuh kamu, tolong dong Bahasa Sumbawa nya

Unknown mengatakan...

ada kamus bhs samawa gk??? kpingin blajar,

Addie g. mengatakan...

Bikin postingan kata kata romantis bahasa sumbawa dong..

Unknown mengatakan...

Gera nos ku sumping
Lenge nos ku pina patung

Vendy oi mengatakan...

Era ku satendrang palangan jangi ku
Lema mares no mo ya cavhak ku

Vendy oi mengatakan...

Rusak diri leng ela diri
Nan de harus tu sabalong rua na

Tu balong insyallah balong tu dapat

Unknown mengatakan...

Bahasa sumbawanya

Jika tidak ada aku dalam rencana indahmu
Ijinkan ku menyimpan kenangan indah saat bersamamu

Unknown mengatakan...

Aku ku butu kau

Unknown mengatakan...

Aku ku perlu mu